Geluti Bisnis Jangkrik Bisa Kantongi Ratusan Juta/Bulan
Mungkin bisnis ini bisa dibilang sepele dan tidak masuk akal. Namun, dari bisnis inilah ratusan juta rupiah mampu diraup.
|
| Rojinsyah (Iin) tertarik membudidayakan jangkrik karena harganya
yang terbilang tinggi, yakni berkisar Rp 50 ribu per kilogram (kg) untuk
harga normal. Selain itu, membudidayakannya yang terbilang mudah serta
banyak peminatnya juga menjadi alasan yang utama untuk mengembangkan
bisnis tersebut. |
|
Ia dan isterinya membudidayakan jangkrik di halaman
depan rumah mereka di Jalan Kawat I Lingkungan 15 Tanjung Mulia Medan
Deli. Rojiansyah mengungkapkan, sudah 3 tahun membudidayakan jangkrik warna kuning. Awalnya, ia diajak abang kandungnya untuk bekerjasama. Namun, malah ia yang meneruskan budidaya tersebut, sementara abangnya tidak berhasil. Iin mengaku, awalnya memelihara indukan sebanyak 3 kg atau berkisar ribuan ekor, dengan modal awal sebesar Rp 500 ribu. "Karena sudah banyak yang terjual, saat ini jangkrik punya saya tinggal 500 an ekor dan untuk saat ini semuanya saya jadikan indukan," katanya kepada MedanBisnis saat ditemui di rumahnya, Minggu (18/1). Ia mengaku selama ini menjual jangkrik dengan harga Rp 50 ribu per kg. Namun, ia juga pernah menjual dengan harga rendah berkisar Rp 40 ribu per kg. "Harga terendah ini jika sedang mengalami musim panen, yakni para pembudidaya jangkrik juga secara serentak menjual di pasaran. Tetapi, saya juga pernah menjual dengan harga tertinggi disaat jangkrik tidak musim, bisa mencapai Rp 75 ribu per kilogram," ucapnya. Menurut Iin, pemintaan jangkrik ini cukup tinggi, karena bisa digunakan sebagai pakan burung, terutama burung yang sering mengikuti kontes. Selain jangkrik disukai burung, juga dapat membuat suara kicauan burung semakin merdu dan melengking tinggi. "Begitu kata para penyuka jenis burung kontes yang saya dengar," tuturnya. Tetapi, lanjut Iin, penjualan jangkriknya hanya melalui agen yang tinggal di kawasan rumahnya yakni, di Tanjung Mulia Medan Deli. "Si agen inilah yang kemudian mengirim jangkrik saya ini ke wilayah Medan, Aceh, Padang Sidempuan dan Sibolga. Karena agen inilah yang membuka pangsa pasar untuk saya, makanya saya menjualnya melalui agen itu," ujarnya. Untuk usaha jangkrik ini kata Iin, memang harus memiliki pangsa pasar sendiri karena di wilayah Tanjung Mulia Medan sudah banyak yang membudidayakannya. Bahkan, budidaya terbesar saja dengan jumlah ratusan kotak juga tempat tinggal dan usahanya tak jauh dari rumah saya, jadi harus bersainglah. Dikatakannya, peminat juga memiliki penilaian tersendiri terhadap jangkrik. Jangkrik ini memiliki 3 jenis warna yakni, warna hitam, cokelat dan kuning. "Tapi saya lebih tertarik memelihara jangkrik dengan warna kuning karena langganan saya menyukai warna jenis ini," ujarnya. Disinggung mengenai cara membudidayakannya. Iin bercerita, tidak begitu sulit, tetapi jangkrik lebih cepat berkembang biak pada musim penghujan. Jika memasuki musim kemarau jangkrik malah sering mati, karena itu harus benar-benar fokus mengurusnya. Untuk indukan jangkrik pada usia 35 hari sudah mulai besar dan masa 40 hari sudah mulai bersayap. Kemudian, di usia 45 hari adalah masa bertelur. Karena itu, di usia ini harus sudah disediakan pasir di dalam suatu wadah, untuk tempat telur-telurnya. Setelah bertelur di atas pasir tersebut, kemudian diayak untuk memisahkan antara telur dan pasir. Dalam satu wadah pasir bisa menghasilkan 1 ons atau sebanyak ribuan telur dari 3 kilogram indukan jangkrik. Setelah itu barulah disemai. Pada usia 10 hari telur-telur itupun menetas, setelah bisa dimasukkan ke dalam kotak atau sarang. |
Wednesday, January 6, 2016
Budidaya Jangkrik
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment